Kekonyolan yang sampai detik ini tidak bisa hilang dari
ingatanku adalah peristiwa sekitar 3,5 tahun yang lalu. Hal itu terjadi di
dalam kelas dan pada saat mapel favoritku. Kala Pak Bas tengah fokus
menjelaskan tentang bagaimana cara mencari luas permukaan prisma, tiba-tiba ada
2 muridnya yang asyik berbicara sendiri. Kegaduhan pun timbul, membuat Pas Bas
geregetan.
“Kendang! Bonang! Kalian ini sedang
membicarakan apa?!” Pak Bas meluapkan kemarahannya.
“A...Anu, Pak.” Jawab Bonang gugup.
Pak Bas pun bertanya kembali, “Anu itu apa?” Seketika teman-teman mulai ramai
menertawakan itu, aku pun juga larut dalam persenda-gurauan itu.
Aneh, pertanyaan itu seharusnya dijawab
bukan ditertawakan.
“Pa...Pacarnya Ken...Kendang, Pak!”
bonang pun memecah kegaduhan dengan rasa penasaran. Aku juga penasaran, siapa
pacarnya Kendang.
“Siapa pacarnya Kendang?” Pak Bas ternyata
juga penasaran.
“A...A...Anu, Pak...” Kata-kata yang
keluar dari mulut Bonang diikuti tawa
murid-murid.
“Oh, Anu itu pacarnya Kendang.” Kata
Pak Bas seolah paham akan jawaban Bonang yang dibuntuti tawa para murid yang
semakin menjadi.
“Bukan, Pak!!” Bonang menyanggah.
“Lalu pacarnya Kendang itu Anu atau
siapa?”” Lagi-lagi Pak Bas tak henti-hentinya membuat perut kami sakit
karena terlalu banyak tertawa.
Tawa itu pun lenyap dari pangkal
tenggorokanku usai kudengar jawaban Bonang.
“Bi...Biola, Pak!”
Aku menggerutu dalam hati, apa-apaan ini?!
Mengapa namaku disebut-sebut. Ini sungguh teramat konyol, bagaimana mungkin aku
adalah pacarnya Kendang, bila aku tidak pernah jadian dengannya.
Apakah ini jawaban dari teka-teki
itu. Saat kulihat Kendang diamuk paksa oleh Siter, Gitar dan Angklung. Siter
memaksa Kendang untuk menjawab pertanyaannya. “Apa kamu suka sama Biola?”
Kendang diam tanpa kata.
“Apa kamu suka Biola?” Siter
mengulangi pertanyaannya dengan nada yang tinggi. Kendang pun angkat bicara.
“IYA! Iya aku suka sama Biola. Puas
kalian!” Puas dengan jawaban Kendang, mereka bertiga pergi, berjalan menuju
kelas dengan tata-tawa kecil mengingat pengakuan Kendang.
Aku yang tengah berada di kelas juda
melihatnya. Karena hal itu terjadi tepat berada di selatan kelas. Sehingga aku
bisa menyaksikannya lewat jendela. Saat Siter, Gitar dan Angklung masuk kelas
dengan tawa, aku pura-pura membaca buku. Sebenarnya aku mengetahui hal itu,
tetapi aku pura-pura tidak melihatnya.
Jadi selama ini Kendang menyimpan
rasa kepadaku. Dan bodohnya aku, bagaimana bisa aku tidak menerima cintanya,
padahal saat itu aku merasakan hal yang sama. Bahkan sampai sekarang pun aku
belum bisa melupakan kekonyolan itu, susah.
Biola...Biola betapa konyolnya dirimu
saat merekam pembicaraan dengan dirinya. Saat menulis ulang kata-kata ***red) bersamanya.
Konyol,konyol dan konyol.
Aku baru sadar, ternyata aku dan dia
sama-sama konyol. Payahnya aku menulis kisah yang sungguh teramat konyol ini.
Aku berfikir sejenak, apakah tidak ada cerita lain selain ini? Setidaknya jauh
dari kata konyol.
BIODATA
Namaku Shoimatun Nur Azizah, lahir
di Klaten, 11 Februari 1996. Tinggal bersama kedua orang tuaku dan satu adik
laki-lakiku di rumah yang beralamat di Pengkol, Kaligawe, Klaten. Suka menulis
sejak kecil mulai dari puisi sampai cerpen. Puisi-puisiku pernah dimuat dalam
majalah SMP yaitu EKSIS dan SMK ialah MAGIK. Jika ingin mengenalku lebih jauh
bisa lewat email di shoim.chyizah@yahoo.com
atau via facebook Shoimatun Nur Azizah. Saat ini tengah asyik mempublikasikan
karyaku dan tengah mengikuti lomba serupa. Tasyarofna, jazakumullahu khoiron
katsiron.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar